Selasa, 11 Agustus 2020

Review Buku " Bahasa Daerah di Indonesia: Kebersamaan dalam Keberagaman"

 


      Salut saya ucapkan kepada ibu Fatmawati Adnan selaku penulis. Membaca judul tersebut di era teknologi 4,0 agaknya membuka kacamata kita sebagai salah satu penduduk yang tinggal di tanah air Indonesia dengan 17.504 pulau serta 1.340 suku. Bahasa daerah seolah-olah terusir dari penutur aslinya ditengah tekanan bahasa asing dan bahasa pemersatu. Benar adanya, seperti pada kalimat pembuka bagian buku sambutan Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.

      Melalui buku ini , penulis membawa pemahaman untuk generasi-generasi yang baru tumbuh lewat cerita sebuah keluarga. Bagaimana tokoh paman membuka dan menanam kan cinta terhadap budaya sendiri khususnya bahasa dengan memulai melestarikan bahasa daerah dalam lingkup keluarga. Indonesia memiliki 646 bahasa daerah yang merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. Alangkah hebatnya Indonesia ku tercinta. Indonesia kita tercinta. Selanjutnya, penulis menekankan berbeda itu indah. 
    Dengan 646 bahasa masing-masing memiliki intonasi, ekspresi, dan diksi yang berbeda. Oleh karenanya , sudah sewajarnya untuk kita memelihara kebersamaan dalam keberagamaan. Gak kebayang kalau pelangi hanya ada 1 warna. Apa mungkin masih seindah yang kita lihat? Pantaslah Bahasa Indonesia hadir menjadi pemersatu ditengah keberagaman yang ada. Tentu kita harus berbangga memiliki bahasa negara dan bahasa nasional! Konon, tidak semua negara memiliki bahasa negara ataupun bahasa nasional. Kita harus bangga, ya! 
       Dengan adanya bahasa persatuan, tidak masalah jika kita bergaul dengan teman-teman yang berasal dari suku yang berbeda. Kita tetap bisa berkomunikasi dengan mereka, bahkan bisa saling mengenali budaya masing-masing. Tak kalah asyik , Keragaman bahasa daerah di Indonesia juga dapat dilihat dari pantun tradisional. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki pantun dalam bahasa daerah. Keberagaman bahasa dan budaya daerah di Indonesia menunjukkan betapa besar dan kuat bangsa kita. Perbedaan bahasa tidak seharusnya menjadi alasan untuk bertengkar. 
    Benar sekali. Pada bab 3 penulis mengilustrasikan bagaimana keragaman bahasa justru mendekatkan kita pada orang lain. Dengan mencoba menggunakan bahasa dari daerah diluar kita, menunjukkan sikap menghormati dan menghargai. Wajarlah kita cukup berbangga menggunakan semboyan Bineka Tunggal Ika karangan Mpu tantular yang tertulis jelas di lambing burung Garuda. Keragaman inilah yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna. 
    Namun, keberagaman yang menjadi kekayaan Indonesia patutlah kita lestarikan dan wariskan pada generasi-generasi selanjuntnya. Pada penutup buku, penulis mengungkapkan bukan tak mungkin kita akan kehilangan satu per satu kekayaan bahasa daerah jika tidak dilestarikan. melestarikan bahasa daerah artinya menjaga dan melindungi agar bahasa daerah tidak hilang dalam kehidupan masyarakat penutur bahasa tersebut. Bahkan, saat ini puluhan bahasa daerah di Indonesia terancam punah. Padahal, banyak sekali kekayaan budaya warisan nenek moyang yang tersimpan dalam bahasa daerah. 
    Upaya paling nyata yang dapat dilakukan adalah menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa yang terus digunakan, terutama dipakai dalam percakapan di rumah. Ah, agaknya ini yang harus kita tularkan kembali. Ketika sebuah keluarga tidak mencoba menggunakan bahasa daerah dalam obrolan ringan sehari-hari maka pada saat itu bahasa daerah sudah kehilangan penutur aslinya. Menutup review saya pada buku karya ibu Fatmawati Adnan, marilah kita terapkan semboyan dalam hal berbahasa “UTAMAKAN BAHASA INDONESIA, LESTARIKAN BAHASA DAERAH, DAN KUASAI BAHASA ASING”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar